Posted by: imeaenschede | May 31, 2009

Arti Ikhlas dan Syirik

Arti Ikhlas dan Syirik

Oleh: ust. Abdul Hakim Abdat

Posted by: imeaenschede | December 14, 2008

[Tanya Jawab] Pengajian Bulanan 13 Desember 2008

Assalaamu’alaikum

1. Bagaimanakah tips untuk belajar dan menghapalkan Al-quran?
- Niat
- Bergaul dengan Al-quran, Insya Allah Al-quran akan melekat dengan diri kita
- Selalu berwudlu sebelum memulai
- Semangat dalam mengulang-ulang (hapalan)
- Mencari waktu yang tepat untuk membaca/menghapalkan (tiap-tiap orang memiliki kapasitas tersendiri untuk membaca/menghapal)
- Pintar memilih lingkungan

* Allah memiliki keluarga di bumi, mereka adalah orang-orang yang senantiasa membaca, menghapal, mentadaburi, dan mengamalkan Al-quran

2. Bagaimanakah cara melawan kemalasan?
- Berdo’a kepada Allah agar dihindari dari kemalasan dan dimudahkannya dalam belajar.
- Menjauhi hal2 yang membuat orang menjadi malas.

3. Bagaimanakh agar bisa konsentrasi dalam beribadah?
Konsentrasi dalam beribadah perlu dilatih terus menerus, bahkan sahabat nabi, Sayyidina Ali bin Abi Tholib, masih belum mampu berkonsentrasi penuh dalam melakukan shalat. Oleh karena itu, Allah hanya mewajibkan kepada kita untuk mendirikan Shalat, tidak mewajibkan untuk shalat khusyuk 100%. Karena Allah mengetahui kapasitas kita sebagai manusia biasa, berbeda dengan manusia-manusia pilihan Allah (para nabi dan rosul)

4. Bagaimanakah mengajak pasangan untuk mendirikan shalat 5 waktu?
- Terus menasehati dan tidak berputus asa
- Memberikan contoh dan teladan, karena inilah yang akan menjadi patokan bagi pasangan kita (bagi yang sudah menikah)

5. Perintah suami, apakah absolut?
Selama perintah suami tidak melanggar perintah Allah, maka hukumnya wajib bagi istri untuk mentaatinya. Kecuali bila perintah suami tersebut memang sengaja untuk menjauhkan kita dari Allah.
Wassalaamu’alaikum

Posted by: imeaenschede | December 14, 2008

Ringkasan Pengajian Bulanan, 13 Desember 2008

Assalaamu’alaikum

Topik pengajian : Nikmat dan Dzikir kepada Allah
Pembicara : Ust. Shofy Ganata
Tempat : Kediaman Ibu Rodiah (Stadtlohn, Germany)

Dalam kesempatan pengajian ini, Ust. Shofy banyak memberikan nasihat kepada kita tentang kenikmatan dan pentingnya dzikir/mengingat kepada sang pemberi nikmat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Surat Al-Hasyr disebutkan bahwa hendaknya setiap insan mempersiapkan bekal untuk hari esok di akhirat kelak. Dan janganlah sekali-kali dari kita, orang-orang yang beriman, melupakan Allah, karena Allah pun akan melupakan kita. Allah yang memberikan kita rezeki dan nikmat, oleh karena itu, patutkah kita melupakan-Nya?

2 dari kenikmatan besar yang Allah karuniakan kepada kita adalah nikmat melihat dan nikmat mendengarkan. Sepantasnyalah bagi kita, seorang yang beriman menggunakan kedua nikmat tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat, salah satunya adalah dengan membaca dan mendengarkan firman-firman Allah, Al-qur’an al-kariim.

Salah satu sifat manusia adalah keinginan yang tak terbatas, atau dengan kata lain, manusia tidak akan pernah puas. Banyak contoh dalam kehidupan nyata atau bahkan yang Allah contohkan di dalam Al-qur’an, bagaimana seorang manusia yang selalu ingin lebih dan tak ada batas puas. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan tersebut, baru akan menyadari tentang kebutuhan mereka kepada Allah bila nikmatnya dicabut oleh Allah. Maukah kita menjadi salah satu dari mereka?

ciri-ciri orang mukmin ketika mendengar firman Allah dibacakan (Al-Anfaal):
- bergetar hatinya
- bertambah imannya

Dan bagi hamba Allah yang selalu mengingat-Nya dikala sendiri, dia termasuk ke dalam golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah.

Wassalaamu’alaikum

Posted by: imeaenschede | October 19, 2008

Kesesatan Yang Dianggap Kebenaran

KESESATAN YANG DIANGGAP KEBENARAN!

Oleh : Tim Bulletin al-Jihad Ma’had Ibnul Qoyyim Balikpapan

Sumber: Buletin al-Jihad – Edisi 17/V Th.1428H

Editor: Abu Yahya

Tidak diragukan lagi bahwasanya tidaklah seorang hamba yang hidup di dunia ini, apakah dari kalangan orang mu’min ataupun kafir, dari kalangan orang yang ta’at ataupun pelaku maksiat,melainkan pasti mereka berupaya dan berusaha agar terhindar dari kesesatan, karena manusia semua meyakini bahwa kesesatan tidak akan menghasilkan kecuali kehancuran dan kebinasaan. Sehingga mereka berusaha untuk tidak tersesat dengan cara masing-masing yang mereka anggap benar.

Tetapi amat sangat disayangkan sekali, diantara manusia ada yang berusaha menjauhkan diri dari kesesatan dengan beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya dengan amalan-amalan yang tidak di ajarkan dalam Islam. Dalam artian, mereka beramal dengan amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam , sama sekali. Sehingga mereka inilah orang-orang yang lari dari kesesatan dengan cara kesesatan pula. Karena kita tahu, bahwasannya mengamalkan amalan yang tidak di contohkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah sesuatu kesesatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam hadits yang di riwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam At Tirmidzi dari sahabat Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallohu ‘anhu :

Artinya : ” Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama) karena seluruh yang bid’ah itu adalah kesesatan “.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullohu ta’ala ketika mengomentari hadits ini : ” ini merupakan peringatan dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk tidak mengikuti perkara-perkara yang diada-adakan (bid’ah) ” . [ Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam ].

“Maka Apabila telah datang waktu kematian (ajal) , mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula)memajukannya” (QS. Al A’raf : 34)

Beliau juga mengatakan : ” Maka siapapun yang mengada-ada dalam agama, kemudian dia menyandarkan bahwa itu dari agamaIislam dalam keadaan tidak ada dasar dari agama Islam yang menunjukkan hal tersebut, maka itu (perkara baru dalam agama) adalah kesesatan. Dan Islam berlepas diri darinya, baik berupa masalah-masalah aqidah atau amalan-amalan atau perkataan-perkataan yang zhahir dan yang batin ” . [ Jamiul ‘Ulum Wal Hikam ] .

Berkata Abdullah bin ‘Umar radhiyallohu ‘anhuma :

Artinya : ” ikutilah oleh kalian (apa yang bawa oleh Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam), dan janganlah kalian membuat bid’ah karena kalian telah di cukupi [ dikeluarkan

oleh Ath-Thabrani. Lihat kitab Al-Bid’ah Wa Atsaruha As-sayyi Fil Ummah ] .

Berkata imam Asy-Syafi’i rahimahulloh :

Artinya : ” Barangsiapa yang ber-istihsan ( menganggap baik suatu amalan tanpa disertai dalil ) maka sungguh dia telah membuat syari’at baru ” [ Al-Bid’ah ] .

Maka dari perkataan Imam Syafi’i ini dapat kita pahami bahwasannya orang yang berbuat bid’ah, maka dia telah terjatuh ke dalam dosa yang besar yaitu usaha untuk menandingi Allah dalam menetapkan syari’at-Nya. Karena sesungguhnya Allah telah membatasi amalan-amalan dan ibadah lewat perantaraan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam Sehingga apa yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam , atau yang diamalkan oleh beliau maka itulah Islam. Dan itulah batasan syari’at Islam, maka barang siapa yang mendatangkan amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam , kemudian menyatakan bahwa itu dari Islam maka dia telah berusaha menandingi Allah dalam membuat syari’at; dan dia telah menyandarkan sifat yang keji terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, yaitu “pengkhianat “. Karena agama Islam telah sempurna dan semua perkara telah di sampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam maka barang siapa yang mendatangkan amalan-amalan yang baru yang tidak pernah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam kemudian menyandarkannya kepada Islam, sesungguhnya secara tidak langsung dia telah menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam telah mengkhianati risalah yang ia bawa dari Allah ‘Azza wajalla.

Berkata Al-Imam Malik rahimahulloh:

Artinya : ” Barang siapa yang membuat kebid’ahan di dalam Islam kemudian dia mengaggap bahwa kebid’ahan itu baik, maka dia telah menuduh bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam adalah pengkhianat risalah. Karena sesugguhnya Allah telah berfirman : ” pada hari ini telah aku sempurnakan bagi kalian bagi kalian dan aku sempurnakan ni’mat-Ku atas kalian dan aku ridhai Islam itu sebagai agama kalian ” [ Al-Maidah : 3 ] maka apapun yang bukan agama pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam maka pada hari ini pula bukan dari agama (Islam) “.

Macam – Macam Bid’ah :

Setelah kita mengetahui bahwsanya seluruh bid’ah di dalam agama adalah kesesatan, maka kita perlu mengetahui macam- macam bid’ah yang sesat itu. Maka bid’ah didalam

agama ada dua macam, yang keduanya adalah kesesatan. [Mauqif ahli sunnah waljama’ah ]

a) Bid’ah Haqiqiyah :

yaitu bid’ah yang sama sekali tidak ada dalil yang jelas dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka contoh bid’ah yang jenis ini adalah sangat banyak, diantaranya adalah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah,atau sebaliknya,sebagaimana bila ada seseorang yang mengharamkan atas dirinya makan ikan,atau makan daging,dengan maksud bertaqarrub kepada Allah Azza wajalla,atau mengaharamkan pakaian tertentu atas dirinya dari pakaian yang dihalalkan,dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah,kelompok ingkarus sunnah,pengakuan adanya nabi setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,dan yang lainnya.

b). Bid’ah Idhafiyyah

Yaitu suatu bid’ah yang memiliki dua pandangan, yang dilihat dari satu sisi seakan akan ia memiliki dalil, namun kalau diperhatikan dari sisi rincian amalan yang dilakukannya, kaifiatnya, bentuknya, maka hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan contoh bid’ah yang jenis ini tidak kalah banyaknya dari jenis yang pertama. Diantaranya: merayakan maulid Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Dari satu sisi mungkin yang mengamalkannya berdalil dengan nash nash yang bersifat umum yang menganjurkan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sehingga Nampak bahwa hal tersebut dianjurkan. Namun bila ditinjau dari amalan tersebut secara seksama, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan kepada kita perayaan tersebut sebagai wujud cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Para sahabat dan tabi’in, serta yang setelahnya, demikian pula para ulama yang masyhur seperti Imam Ahmad, Imam Syafi’I, Imam Malik dan yang lainnya dari para Imam Ahlis Sunnah Wal-jama’ah, tidak pernah menganjurkan dan membahasnya. Kalaulah hal tersebut disyari’atkan, maka sudah tentu mereka lebih utama mengamalkannya.

Adapun dalil yang dijadikan hujjah oleh mereka yang menganjurkan perayaan maulid, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin, lalu beliau menjawab:

pada hari itu aku dilahirkan, dan diturunkan kepadaku (Al-Qur’an)“.

Hadits ini sama sekali bukan dalil tentang bolehnya merayakan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam, ditinjau dari beberapa sisi :

Pertama: hadits ini menjelaskan tentang keutamaan hari senin,dan bukan tahun kelahiran beliau Shallalahu alaihi wasallam. Sehingga jika ingin mengikuti hadits ini, maka semestinya dengan menghidupkan keutamaan hari Senin tersebut dengan cara berpuasa, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Bukannya dengan merayakan tahunnya. Hal ini mirip halnya seperti orang yang mengatakan : “Saya hanya ingin mengerjakan shalat wajib sekali sepekan”,

sementara Allah dan Rasul-Nya memerintahkan dia untuk melaksanakannya 5 kali sehari semalam.

Kedua: terjadinya perselisihan dikalangan para ulama tentang penentuan tanggal hari kelahiran beliau Shallallahu alaihi wasallam,ada yang mengatakan 12 Rabi’ Al-Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabi’ Al-Awwal, adapula yang mengatakan tanggal 18 Rabi’ Al-Awwal, ada yang mengatakan tanggal 2, ada lagi yang mengatakan tanggal 10, dan mungkin ada lagi yang lainnya. Berbeda halnya dengan hari kelahiran beliau, yang telah dipastikan bahwa beliau lahir pada hari Senin, sebagaiman yang telah tersebut dalam hadits.

Ketiga: bahwa pada hari Senin terdapat sebab lain yang menyebabkan beliau menyukai berpuasa pada hari Senin, disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Amalan-amalan dihadapkan pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku suka amalanku dihadapkan dalam keadaan aku berpuasa“. (HR.An-Nasaai dengan sanad

yang shahih).

Sedangkan keutamaan ini tidak terdapat pada tahun kelahiran beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Keempat: sangat berbeda antara puasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Senin, dengan perayaan maulid yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin tersebut. Sebab berpuasa adalah ibadah khusus yang tidak boleh dilakukan dalam hari raya, sebagaimana yang disebutkan oleh Umar bin Khatthab Radhiallahu ‘anhu tentang dua hari raya: Idul Fithri dan Idul Adha: “ini adalah dua hari yang mana Rasulullah shallallahu laihi wasallam melarang berpuasa pada kedua hari itu: hari berbukanya kalian dari puasa kalian,dan yang kedua adalah hari kalian makan dari sembelihan kalian” (HR.Bukhari)

Sementara apa yang kita saksikan dari perayaan maulid, yang keadaannya seperti hari raya, yang disuguhkan berbagai macam makanan, telur-telur yang diwarnai,dan di sebagian tempat dengan cara menghamburkan harta dalam perkara yang tidak bermanfaat. Allahul musta’an.

Semoga Allah memberikan kepada kaum muslimin pemahaman yang benar dalam menjalankan agama ini. Amin ya mujibas saailin. (HDZ).

Daftar Putaka :

1. Jamiul ‘Ulum Wal Hikam

2. Al-Bid’ah Wa Atsaruha As-Sayyi Fil Ummah

3. Hilyatul Auliya

4. Mauqif Ahlissunnah Wal Jamaah

Posted by: imeaenschede | October 12, 2008

Buah Kemaksiatan dan Kelalaian

Buah Kemaksiatan dan Kelalaian

Kemaksiatan dan kelalaian, dua hal yang melahirkan berbagai jenis penderitaan di dalam diri manusia. Tidakkah anda ingat bagaimana penyesalan Nabi Adam ‘alahis salam tatkala menyadari kesalahannya setelah mendurhakai Rabb-nya? Tidakkah anda ingat bagaimana penyesalan orang-orang kafir di akhirat yang mengandaikan kalau saja ketika di dunia mereka hanya menjadi sebongkah tanah saja? Tidakkah anda ingat bagaimana penyesalan dan hukuman yang harus dirasakan oleh Ka’ab bin Malik bersama dua orang sahabatnya yang sama-sama tidak ikut perang Tabuk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang lainnya? Lihatlah pada diri mereka; betapa kemaksiatan dan kelalaian telah menjauhkan mereka dari ketenteraman dan kebahagiaan. Aduhai, adakah manusia yang sudi hidup dirundung rasa takut, tersiksa, dan larut dalam kesedihan demi kesedihan…

Saudaraku, semoga Allah memberikan taufik kepada aku dan kamu, ingatlah bahwa hakikat kehidupan kita di dunia ini adalah demi menjalankan sebuah misi yang sangat agung yaitu beribadah kepada Allah ta’ala semata. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (hanya) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Dan sesungguhnya beribadah kepada Allah itu adalah dengan melakukan apa yang Allah cintai dan meninggalkan apa yang Allah benci.

Sekarang Saatnya Menanam Pohon Ketaatan

Saudaraku, maka dari itu kehidupan ini adalah ladang amal bagi kita. Apabila kita menanam kebaikan-kebaikan di dunia ini, niscaya kita akan menuai hasil yang menggembirakan di hari kemudian. Namun sebaliknya, apabila ternyata yang kita tanam justru perbuatan dosa dan kemaksiatan, maka jangan salahkan siapa-siapa jika buah yang nantinya kita rasakan di hari kemudian adalah buah Zaqqum dan minuman mendidih yang menjijikkan dan menghancurkan saluran pencernaan.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ’sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus…” (Al Fawa’id, hal. 158).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda memberikan nasihat yang sangat berharga kepada setiap kita, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing atau orang yang sedang mengadakan perjalanan.” Ibnu ‘Umar mengatakan, ‘Apabila kamu berada di waktu sore, janganlah menunggu datangnya waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi janganlah menunggu datangnya waktu sore. Manfaatkanlah saat sehatmu sebelum datang saat sakitmu, dan gunakan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.’.” (HR. Bukhari).

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Janganlah kamu terlalu menggantungkan hati kepada dunia, dan jangan jadikan ia sebagai tempat tinggal, janganlah kamu katakan kepada dirimu bahwa kamu selamanya akan tinggal di sana. Janganlah bergantung kepadanya kecuali sekedar seperti orang asing yang membutuhkan sesuatu hal ketika berada di suatu tempat di luar daerah asalnya yang tetap memendam rasa rindu untuk kembali kepada keluarganya.” (Durrah Salafyah, hal. 276). Beliau juga menandaskan bahwa di dalam hadits ini kita diajari untuk memendekkan angan-angan yang tidak sepantasnya, menyegerakan bertaubat, dan bersiap-siap untuk menghadapi kematian (Durrah Salafyah, hal. 276).

Siapakah di antara kita yang bisa menjamin bahwa besok pagi kita masih hidup? Oleh sebab itu manfaatkanlah waktu yang masih ada ini dengan sebaik-baiknya untuk berbuat ketaatan. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma telah berpesan kepada kita, “Apabila kamu berada di waktu sore janganlah menunggu datangnya waktu pagi. Dan apabila kamu berada di waktu pagi janganlah menunggu datangnya waktu sore.” Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Artinya apabila kamu berada di waktu sore jangan kamu katakan: Aku pasti masih akan hidup hingga pagi besok. Betapa banyak orang yang memasuki waktu sore namun ternyata tidak sempat menikmati waktu pagi di keesokan harinya…” (Durrah Salafiyah, hal. 279).

Kematian pasti datang dan tidak dapat dielakkan. Kalau ia telah datang menjemput maka amal telah terputus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang manusia meninggal maka akan terputus amalnya kecuali tiga perkara : sedekah yang terus mengalir (pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan orang lain, atau anak saleh yang mendoakan kebaikan bagi orang tuanya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu). Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Maka sudah sepantasnya bagi setiap orang berakal yang masih hidup serta berada dalam kondisi sehat dan segar bugar untuk bersemangat mengerjakan amal sebelum dia meninggal dan ketika itulah amalnya menjadi terputus.” (Durrah Salafiyah, hal. 280).

Seorang khalifah yang lurus dan mendapatkan bimbingan hidayah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Bersikap pelan-pelan dalam segala hal itu adalah baik kecuali dalam mengerjakan berbagai kebajikan demi meraih kebahagiaan di akherat kelak.” Hasan Al Bashri juga menasihatkan, “Bersegeralah, bersegeralah! Karena hidup kita ini sebenarnya adalah tarikan nafas demi tarikan nafas. Seandainya tarikan-tarikan itu dihentikan dari diri kalian niscaya akan terputuslah amal-amal yang sedang kalian kerjakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Semoga Allah merahmati seorang manusia yang memperhatikan dirinya sendiri dan menangisi sekian banyak jumlah dosa yang telah dia lakukan…” (Durrah Salafiyah, hal. 280). Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menasihati kita dengan sebuah nasihat yang sangat menyentuh, “Sesungguhnya dunia pasti akan lenyap dan pergi tunggang-langgang. Sedangkan akhirat pasti akan datang dan menghadang. Dan masing-masing di antara keduanya mempunyai anak-anak yang mengejarnya. Maka jadilah kalian sebagai ‘anak-anak akhirat’. Dan janganlah kalian termasuk ‘anak-anak dunia’. Karena sesungguhnya masa sekarang ini (kehidupan dunia) adalah masa untuk beramal serta belum ada hisab (perhitungan). Adapun esok (hari akhirat) adalah perhitungan yang tidak ada lagi kesempatan untuk beramal. ” (lihat Durrah Salafiyah, hal. 280).

Pahitnya Buah Kemaksiatan dan Kelalaian

Ibnul Qayyim rahimahullah memaparkan, “Sedikitnya taufik (pertolongan dari Allah), rusaknya pemikiran, tersamarnya kebenaran, rusaknya isi hati, tidak membekasnya bacaan zikir yang dibaca, perjalanan waktu yang tersia-siakan, ketidaksukaan dan kepergian teman, perasaan hampa dan sempit pada diri seorang hamba di hadapan Rabbnya, terhambatnya pengabulan doa, hati yang keras, tercabutnya keberkahan dalam urusan rezeki dan umur, terhalang mendapatkan ilmu, terselimuti dengan kehinaan dan kerendahan karena tekanan musuh, perasaan sempit dada, tertimpa musibah berupa dikelilingi oleh teman-teman dekat yang jelek sehingga merusakkan isi hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan gundah gulana yang berkepanjangan, penghidupan yang sempit dan tertutupnya kemampuan untuk memperbaiki keadaan diri, itu semua terlahir dari kemaksiatan dan kelalaian untuk mengingat Allah. [Itulah dampak kemaksiatan] Sebagaimana halnya tanaman yang tumbuh dari dalam genangan air, atau seperti panas yang membakar dari sebuah nyala api. Sedangkan hal-hal yang menjadi lawan dari itu semua akan muncul dari ketaatan.” (Al Fawa’id, hal. 35-36).

Pada suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengisahkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila kemaksiatan telah merajalela di kalangan umatku maka Allah meratakan azab kepada mereka semua dari sisi-Nya…’.” (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ [5231] dan Sahih Sunan Abu Dawud [4347]. Lihat Ad Daa’ wa Ad Dawaa’, hal. 51).

Allah ta’ala berfirman,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Isra’il melalui lisan Daud dan ‘Isa bin Maryam, hal itu dikarenakan perbuatan maksiat yang mereka lakukan dan mereka senantiasa melampaui batas. Mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang dilakukan di antara mereka. Sungguh jelek apa yang telah mereka kerjakan itu.” (QS. Al Ma’idah: 78-79)

Di dalam ayat yang mulia ini Allah ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa Bani Isra’il mendapatkan laknat dari Allah karena kemaksiatan yang mereka lakukan, sikap mereka yang melampaui batas, dan mereka tidak menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Artinya (mereka dilaknat) karena kemaksiatan mereka kepada Allah dan kezaliman mereka terhadap hamba-hamba Allah. Itulah yang menjadi sebab kekafiran mereka dan jauhnya mereka dari rahmat Allah. Karena sesungguhnya perbuatan-perbuatan dosa dan kezaliman itu pasti membuahkan hukuman-hukuman…” (Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 241).

Saudaraku, ingatlah bahwa segala macam bentuk kemaksiatan dan kelalaian adalah termasuk tindak kezaliman. Sebab hak Allah atas hamba-Nya adalah untuk ditaati bukan didurhakai, diingat dan bukan dilalaikan. Kezaliman ada tiga macam : kezaliman manusia terhadap hak Allah yaitu syirik, kezaliman manusia kepada dirinya sendiri itulah yang biasa disebut dengan maksiat, serta kezaliman terhadap sesama. Ketiga hal ini adalah kezaliman dan juga sekaligus kemaksiatan. Kalau kezaliman seorang hamba kepada dirinya adalah maksiat, maka bagaimana lagi kezalimannya kepada orang lain, dan bagaimanakah lagi jika yang dizaliminya adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala Dzat yang telah menciptakan dirinya?

Apakah sebab timbulnya berbagai macam kerusakan di atas muka bumi ini kalau bukan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh umat manusia? Allah ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di atas daratan dan juga di lautan dikarenakan apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan manusia…” (QS. Ar Ruum: 41)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Tindakan merusak bumi itu terdiri dari dua bentuk:

Pertama, perusakan secara fisik yang bisa dilihat dengan indera, yaitu seperti dengan cara merobohkan rumah-rumah, merusak jalan-jalan, dan kejahatan lain semacamnya.

Yang kedua adalah perusakan secara maknawi, yaitu dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Pada hakekatnya maksiat itulah sebesar-besar tindak perusakan yang terjadi di atas muka bumi.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas (Al Qaul Al Mufid, II/77).

Dan karena kezaliman pulalah umat-umat terdahulu yang durhaka dihancurkan oleh Allah dengan berbagai macam bentuk siksaan dan bencana yang mengerikan. Allah ta’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

“Dan tidaklah Kami akan menghancurkan negeri-negeri itu kecuali karena para penduduknya adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Qashash: 59)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang gemar berbuat zalim berupa kekafiran atau maksiat memang berhak untuk menerima hukuman dari Allah. Karena Allah tidak akan menghukum siapa pun kecuali karena kezaliman yang dilakukannya dan setelah hujjah ditegakkan kepadanya (lihat Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 621).

Oleh sebab itu Allah ta’ala melarang keras tindak perusakan di atas muka bumi ini dengan segala jenisnya. Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kalian melakukan perusakan di atas muka bumi setelah sebelumnya ia diperbaiki… (QS. Al A’raaf: 56)

Sembari menukil ayat, Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi” Artinya adalah (jangan berbuat kerusakan, pent) dengan melakukan berbagai perbuatan maksiat. “Sesudah dia diperbaiki.” Artinya adalah (sebelumnya bumi itu telah baik, pent) dengan amal-amal ketaatan. Karena sesungguhnya berbagai perbuatan maksiat itu menjadi sebab rusaknya akhlak, rusaknya amalan dan carut marut rezeki. Ini serupa dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “Telah muncul kerusakan di daratan dan di lautan dengan sebab ulah tangan-tangan manusia.” Sebagaimana halnya berbagai perbuatan ketaatan menjadi sebab baiknya akhlak, bagusnya amalan, dan kelancaran rezeki serta kebaikan kondisi di dunia maupun di akhiat.” (Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 292).

Belum lagi, kalau kita mengetahui bahwasanya kezaliman yang kita lakukan itu ternyata akan menghalangi kita dari mendapatkan manisnya hidayah. Tentunya setelah menyadari hal ini kita akan berusaha untuk menjauhkan diri darinya sejauh-jauhnya. Allah ta’ala berfirman,

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka apabila mereka tidak memenuhi seruanmu (wahai Muhammad), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Qashash: 50)

Orang-orang yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang kezaliman telah menjadi karakter hidupnya dan suka menentang (kebenaran) telah melekat dalam perangainya. Ketika hidayah menyapa, mereka justru menolaknya. Mereka lebih senang menuruti kemauan hawa nafsunya. Mereka sendirilah yang menutup pintu-pintu dan jalan menuju hidayah. Mereka justru membuka pintu-pintu kesesatan dan jalan menuju ke sana. Mereka menutup mata dan tidak mau tahu, padahal mereka telah tenggelam dalam kesesatan dan penyimpangan. Mereka terombang-ambing, hidup di ambang kehancuran (lihat Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 618). Ayat ini juga merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua orang yang tidak mau memenuhi seruan Rasul dan justru menganut pendapat yang menyelisihi ucapan Rasul maka dia tidaklah bermazhabkan bimbingan hidayah akan tetapi mazhabnya adalah hawa nafsu (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 618).

Padahal kita sudah sama-sama tahu bahwa hidayah adalah perkara yang sangat kita butuhkan, lebih daripada kebutuhan kita kepada makanan dan minuman. Tidakkah kita ingat sebuah doa nan indah yang selalu terucap dari lisan orang yang melakukan shalat lima waktu yang dilakukannya setiap hari? ‘Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus’. Bukankah itu doa yang terus kita panjatkan di setiap rakaat shalat yang kita lakukan? Apakah itu artinya? Apakah itu berarti kita mengucapkan sesuatu yang sia-sia dan tanpa makna? Apakah itu artinya kita bisa hidup tenteram dan bahagia tanpa bimbingan dan petunjuk dari Allah ta’ala? Tidakkah kita sadar bahwa hal itu menunjukkan bahwa hidayah itu lebih penting dari segala kebutuhan dunia; yang primer, sekunder, apalagi tersiernya? Lalu apalah artinya kita hidup jika tanpa bimbingan dan pertolongan dari-Nya? Lihatlah betapa pahit akibat yang harus dirasakan oleh orang yang bermaksiat kepadanya; kehilangan sesuatu yang paling berharga dan menjadi ruh kehidupannya yaitu hidayah dari Allah ta’ala, la haula wa la quwwata illa billah

Penyebab Terjadinya Maksiat

Ibnul Qayyim rahimahullah memaparkan, “Tidaklah seorang hamba menerjang sesuatu yang diharamkan oleh Allah melainkan disebabkan oleh [salah satu di antara] dua kemungkinan:

Pertama: Karena persangkaan buruknya kepada Rabbnya. Dia mengira kalau dia tetap taat kepada Allah serta lebih mengutamakan keinginan-Nya maka Allah tidak akan memberikan ganti lebih baik darinya yang halal untuk dinikmati.

Kedua: Dia telah menyadari hal itu, dan dia pun tahu bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya. Akan tetapi hawa nafsunya telah menguasai dirinya sehingga dia tidak lagi bersabar dan dia pun telah mencampakkan akal sehatnya.

Yang pertama terjadi karena lemahnya ilmu yang dia punyai. Sedangkan yang kedua terjadi karena lemahnya akal dan kejernihan mata hati yang dia miliki…” (Al Fawa’id, hal. 46).

Wahai saudaraku, marilah kita cermati diri kita masing-masing. Tidakkah kita ingat, dahulu kita ini bukan apa-apa. Kita dulu belum terlahir ke alam dunia, kita dulu tidak mengetahui apa-apa, tidak punya apa-apa, dan tidak bisa melakukan apa-apa. Lantas Allah menciptakan kita dengan rupa dan bentuk yang amat sempurna. Dan Allah mengaruniakan akal, penglihatan, pendengaran, dan hati kepada kita. Allah juga yang menciptakan berbagai macam binatang ternak, tanaman, dan buah-buahan sehingga bisa dinikmati oleh manusia. Allah juga yang memberikan akal dan kecerdasan kepada umat manusia sehingga mereka bisa mengembangkan teknologi canggih di mana-mana. Apakah yang telah membuat kita lalai dan larut dalam kemaksiatan kepada-Nya?

Apakah dengan melakukan maksiat itu berarti kita menyangka Allah tidak melihat perbuatan kita? Apakah dengan melakukan maksiat itu berarti kebahagiaan yang hakiki akan kita raih, atau justru sebaliknya; perasaan sedih, menyesal, bersalah, dan gundah gulana yang akan mengisi relung-relung hati kita? Tidakkah orang yang miskin menyadari bahwa dengan mencuri dia tidak akan menjadi kaya, bahkan bisa jadi dia akan dijebloskan ke dalam penjara? Tidakkah orang yang kehausan sadar bahwa dengan meminum khamr maka rasa hausnya justru tidak akan terobati dan bahkan dirinya akan semakin tersiksa? Tidakkah para koruptor sadar bahwa uang haram yang dia masukkan ke dalam rekeningnya justru akan mencabut keberkahan hartanya serta menyiksa hati dan pikirannya, dan bisa jadi menjatuhkan kedudukannya di hadapan masyarakat, atau paling tidak mereka akan dimurkai oleh Allah ta’ala? Apakah setelah menyadari ini semua -wahai insan- kamu akan tetap bersikeras bermaksiat dan lalai dari mengingat keagungan-Nya?

Allah ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka dengan mengingat Allah dan kebenaran yang diturunkan. Dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang sebelumnya yang telah diberikan Al Kitab, masa yang panjang mereka lalui (dengan kelalaian) sehingga hati mereka pun mengeras, dan banyak sekali di antara mereka yang menjadi orang-orang fasik.” (QS. Al Hadid: 16)

Apakah belum tiba waktunya bagi kita untuk mengisi hari-hari kita dengan bacaan al-Qur’an dan mentadabburinya? Apakah belum tiba waktunya bagi kita untuk tunduk secara total mengikuti keindahan ajaran syari’at-Nya? Ataukah kita akan membiarkan hati ini mengeras tanpa siraman ayat-ayat-Nya dan panduan ajaran Nabi-Nya?

Wahai manusia, sesungguhnya Allah sangat menyayangi diri kalian, oleh sebab itu Allah turunkan al-Qur’an bagi kalian untuk dipelajari bukan untuk dicampakkan. Allah utus Nabi-Nya kepada kalian untuk kalian ikuti bukan untuk ditinggalkan. Maka alangkah meruginya kalian jika kalian justru menyia-nyiakan bimbingan ilahi ini.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati-hati manusia sangat butuh untuk berzikir dan mengingat wahyu yang diturunkan oleh Allah serta mengisi ucapan-ucapannya dengan hikmah. Tidak semestinya hal itu dilalaikan. Karena kelalaian adalah penyebab keras dan membekunya hati.” (Taisir Al Karim Ar Rahman, hal. 840).

Kita memohon kepada Allah dengan keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, kekhusyu’an dalam beribadah, dan rasa takut kepada-Nya baik di saat bersama manusia maupun tidak bersama mereka. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita taubatan nasuha sehingga Allah mengampuni dosa dan kesalahan-kesalahan kita.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Yogyakarta, 19 Shafar 1429/ 27 Februari 2008

Saudaramu di jalan Allah,

Abu Mushlih Ari Wahyudi

Semoga Allah menerima taubatnya,
Dan juga kaum muslimin semuanya

************************************

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada  Nabi kita Muhammad Shallallahu  Álaihi  Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

Older Posts »

Categories