Category Archives: ringkasan pengajian

Ringkasan Pengajian IMEA April 2011: Waroom ben Ik Moslim?

Assalaamu’alaikum,

Ahad, 24 April 2011 di ITC the Globe.
Pembicara: Brother Nadeem aka Ricardo from Amsterdam (untuk selanjutnya akan ditulis Nadeem)
Topik: Waroom ben Ik Moslim?

Tema pengajian bulan lalu membahas tentang kesaksian brother Nadeem yang memilih Islam sebagai keyakinan agamanya.

Latar belakang Nadeem
Nadeem memiliki dara Indonesia dari ibunya. Sang ibu yang seorang muslim menikah dengan ayahnya yang seorang Belanda. Lalu kembali ke Belanda mengikuti ayahnya. Nadeem memilik seorang saudara kembar laki-laki dan seorang saudara perempuan. Setiap manusia dilahirkan sebagai Muslim hingga ia baligh. Ketika baligh, maka seorang anak/remaja itu harus bersyahadah sebagai bukti ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Nadeem sadar, pada saat itu dia masih belum memilih jalur keyakinan mana yang akan ia ambil. Karena kalau dilihat dari kaluarga, dia sudah Muslim. Tapi bila dilihat dari pergaulan, keluarga, dan lingkungannya, bisa dikatakan jauh dari lingkungan yang Islami. Hingga akhirnya 6 tahun lalu, Nadeem bersyahadah dan memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Awal remaja
Ketika masih kecil, satu-satunya warna Islam yang Nadeem ketahui hanyalah Halal-bihalal ketika Ramadhan. Selain halal-bihalal, Nadeem tidak ada pengetahuan sedikit pun tentang Islam. 

Nadeem pernah masuk sekolah kristen, ia belajar tentang trinitas, bibel, dan segala hal yang berhubungan dengan kristen. Pelajaran tentang Islam tidak ia dapatkan, bahkan ketika sudah masuk umur 12 tahun. Ketika itu, sepenuhnya Nadeem berkembang dalam komunitas non-Islam. Berkembang dalam komunitas asli Belanda, Nadeem seperti kebanyakan remaja Belanda, liberal dan atheis. Konsep yang umum dikalangan remaja Belanda. 

Memasuki secondary school, Nadeem merasa malu sebagai seorang “Muslim” dan memiliki keluarga yang beragama Islam. Walaupun pada saat itu, dia sendiri lebih ke arah liberal. Tapi status di KTP-nya tetap menunjukkan bahwa dia seorang Muslim. Faktor merasa malu ini dikarenakan Nadeem memiliki seorang teman yang sangat membenci Islam. Selain itu, kesan remaja turki dan maroko terlihat buruk di mata Nadeem. Faktor-faktor inilah yang menjadikan Nadeem enggan untuk dikait-kaitkan dengan Islam.

Nadeem menceritakan, bahwa masa-masa remaja Belanda adalah masa-masa yang buruk bagi seorang remaja Muslim. Dikarenakan hukum yang berlaku adalah Hukum Rimba atau Rules of the Jungle. Banyak anak remaja yang bertingkah kemaki untuk menarik perhatian lawan jenis. Tidak sedikit anak-anak yang tidak patuh terhadap orang tuanya. Bila anak itu patuh pada orang tuanya, maka teman-temannya akan mencemoohnya dan mengejek “anak cengeng”, “anak penakut”, anak mama”, atau ejekan-ejekan lainnya. Untuk menarik perhatian lawan jenis dan menjadi populer di kalangan teman-temannya, bersikap angkuh adalah sesuatu yang wajar. Hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini: Moral menjadi sesuatu yang mahal antara anak dengan orang tua.

Selain itu, orang yang beragama akan dianggap kuno dan terbelakang (termasuk Islam dan Kristen). Hal ini disebabkan oleh peristiwa renaisance di abad 17an, ketika agama dan ilmu pengetahuan berbenturan. Sebagai hasilnya, kita bisa lihat di Eropa secara umum: ilmu pengetahuan lebih dominan dari pada agama.

Proses pencarian agama
Hingga suatu hari, Nadeem berdiskusi dengan saudara kembarnya untuk membandingkan agama. Mereka melakukan diskusi dan penelitian terhadap agama Islam, Kristen, dan Atheis. Yang mana di akhir kesimpulan, mereka akan mengambil yang terbaik untuk dijadikan jalan hidupnya.

Setelah beberapa waktu, mereka hampir selesai pada suatu kesimpulan: Kristen lebih baik dari yang lainnya. Dan mereka sudah hampir sepakat untuk hal ini. Tapi Allah berkehendak lain, mereka bertemu seorang Algeria dan berkata “Jangan lupakan asal-usulmu” mengingatkan mereka tentang komitmen mereka di awal untuk mengkaji semua agama.  Mereka menyadari bahwa mereka belum mengkaji agama Islam sebanyak mereka mengkaji agama kristen.  Maka mereka pun memulai kembali mengkaji agama Islam dan berpikir ulang untuk lebih mendalami Islam. Sampai pada suatu hari ketika sedang menghadiri sebuah majlis di masjid Al-Hikmah Den Haag, Nadeem bertemu dengan seorang ibu yang memiliki suami Belanda dan paham banyak tentang Islam. Nadeem belajar banyak dari bapak itu tentang Islam. 

Hal pertama yang diajarkan adalah tentang definisi zat (matter). Suatu zat itu bergantung pada zat lainnya. Sebagai contoh: Manusia bergantung pada oksigen, Oksigen bergantung pada tumbuhan/tanaman, tumbuhan/tanaman bergantung pada tanah dan matahari, dan seterusnya… a never ending story. Lalu, dibalik semua itu pastilah ada sesuatu kekuatan besar yang mengendalikan, dan itu adalah Zat Yang Maha Besar. 

Sebagai contoh lainnya:
Kalau kita mengambil contoh sebuah footprint atau jejak kaki di pantai. Bagaimana jejak kaki tersebut bisa ada? Mari kita telaah satu-satu kemungkinannya:

1. Jejak tersebut memang sudah ada dari dulu
Apakah mungkin? jelas tidak mungkin toh?
2. Jejak tersebut ada dengan sendirinya
Secara nalar pun nggak mungkin, cuma orang sedeng aja yang menganggap jejak kaki di pantai terbentuk dengan sendirinya tanpa ada yang menginjak/membuat
3. Jejak tersebut ada karena seseorang barusan lewat situ
Kalau jawaban yang ini baru masuk akal

Artinya apa? jejak tersebut ada yang membuat, ada yang menciptakan.

Kalau kita analogikan jejak tersebut sebagai alam semesta beserta isinya. Lalu, siapakah sang pembuat “jejak kaki” yang maha besar ini? Tentunya Dia Yang Maha Agung dan Maha Besar, Sang Pencipta. Alam semesta terbentuk bukan karena suatu kebetulan (di science disebut sebagai teori Big Bang). Tapi alam semesta terbentuk karena ada yang menciptakan. Sampai tahap ini, paham Atheis sudah mereka buang ke laut

Tahap berikutnya, dijelaskan bagaimanakah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh Tuhan Sang Pencipta itu.  Sampai di sini pun, belum ngomong tentang Islam, melulu tentang logika.  Disebutlah beberapa sifat yang harus dimiliki oleh Tuhan itu, di antaranya: “hanya boleh ada satu”, “maha kuasa untuk mengurus semua ciptaannya yang tersebar di bumi, di langit, di atas langit (antariksa)”, dan sifat-sifat lainnya yang kita kenal di Islam (tapi saat itu belum menyebut-nyebut Islam).  Kembali mereka berdua tak bisa tak setuju dengan logika tentang keharusan dimilikinya sifat-sifat tersebut oleh Tuhan.

Setelah untuk dua poin kunci tersebut mereka sepakati, barulah dijelaskan bagaimana Allah SWT, menjelaskan tentang diri-Nya, tentang penciptaan alam semesta, tentang sains, melalui Al-Qur’an.  Dijelaskan pula tentang bukti-bukti bahwa Al-Quran adalah firman Allah, serta bagaimana keotentikan Al-Quran tetap terjaga hingga sekarang dan hingga masa yang akan datang.


Kesimpulan
Nadeem memilih Islam dengan intelektual, bukan dengan feeling yang bersifat fluktuatif (kadang good mood, kadang bad mood). Juga bukan dengan science, karena science itu tidak pasti. Nadeem memilih Islam by learning, not by birth.

Rasional dalam mempercayai Islam, tapi sami’na wa atho’na (patuh dan taat) dalam mempelajarinya. Harus percaya dulu kalau Al-qur’an itu firman Allah, perihal isinya masuk akal atau tidak itu tergantung pemahaman masing-masing orang. Karena kita sebagai manusia, memiliki otak yang terbatas untuk memahami semua isi kandungan Al-qur’an.

Wallahu ‘alam bishowab

Wassalaamu’alaikum,

Pengajian IMEA Januari 2011

Alhamdulillahirabbil`alamin pada hari Ahad tanggal 23 Januari 2011 (19 Safar 1432 H) kembali bisa terselenggara pengajian bulanan IMEA yang kali ini bertempat di ruangan ITC Globe, Hotel ITC Enschede. Pengajian bulan ini menghadirkan pembicara Ustadz Yusuf Wibisono dari Universiteit Twente yang menyampaikan kajian dengan tema Muslim Identity”

Ringkasan Pengajian Bulanan, 13 Desember 2008

Assalaamu’alaikum

Topik pengajian : Nikmat dan Dzikir kepada Allah
Pembicara : Ust. Shofy Ganata
Tempat : Kediaman Ibu Rodiah (Stadtlohn, Germany)

Dalam kesempatan pengajian ini, Ust. Shofy banyak memberikan nasihat kepada kita tentang kenikmatan dan pentingnya dzikir/mengingat kepada sang pemberi nikmat, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam Surat Al-Hasyr disebutkan bahwa hendaknya setiap insan mempersiapkan bekal untuk hari esok di akhirat kelak. Dan janganlah sekali-kali dari kita, orang-orang yang beriman, melupakan Allah, karena Allah pun akan melupakan kita. Allah yang memberikan kita rezeki dan nikmat, oleh karena itu, patutkah kita melupakan-Nya?

2 dari kenikmatan besar yang Allah karuniakan kepada kita adalah nikmat melihat dan nikmat mendengarkan. Sepantasnyalah bagi kita, seorang yang beriman menggunakan kedua nikmat tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat, salah satunya adalah dengan membaca dan mendengarkan firman-firman Allah, Al-qur’an al-kariim.

Salah satu sifat manusia adalah keinginan yang tak terbatas, atau dengan kata lain, manusia tidak akan pernah puas. Banyak contoh dalam kehidupan nyata atau bahkan yang Allah contohkan di dalam Al-qur’an, bagaimana seorang manusia yang selalu ingin lebih dan tak ada batas puas. Orang-orang yang masuk ke dalam golongan tersebut, baru akan menyadari tentang kebutuhan mereka kepada Allah bila nikmatnya dicabut oleh Allah. Maukah kita menjadi salah satu dari mereka?

ciri-ciri orang mukmin ketika mendengar firman Allah dibacakan (Al-Anfaal):
- bergetar hatinya
- bertambah imannya

Dan bagi hamba Allah yang selalu mengingat-Nya dikala sendiri, dia termasuk ke dalam golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah.

Wassalaamu’alaikum

Menjelang bulan Ramadhan

Halaqah Rutin bulanan IMEA.

Hari Ahad, tanggal 10 Agustus 2008.

Dari pukul 12.50 s/d 15. 40

Bertempat di rumahnya Ibu Rani, Epe(Westf)-Germany.

 

Pembicara : Ust. Hasyim

Topik : Tentang bulan Ramadhan.

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan bagi kita, umat muslim, untuk meningkatkan ibadah-ibadah sebelum datangnya bulan yang penuh dengan pahala dan ampunan dosa. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menyempurnakan amalan-amalan wajib dan memperbanyak amalan-amalan sunnah (berpuasa, berinfaq, qiyamul lail, dll). Hal ini, utamanya puasa sunnah, sungguh bermanfaat bagi kita ketika memasuki bulan Ramadhan, sehingga akan melatih kita menjadi terbiasa. Tentunya, ibadah-ibadah ini bukan hanya diperuntukan pada saat bulan Ramadhan saja, melainkan juga tetap dipertahankan/ditingkatkan setelah bulan ramadhan. Karena ibadah yang kita niatkan pada saat bulan Ramadhan, bukan hanya semata-mata karena bulan suci Ramadhan. Sia-sialah bagi mereka yang hanya meningkatkan amalan ibadah ketika bulan Ramashan saja.

 

Berpuasa merupakan suatu ibadah yang memerlukan kesabaran luar biasa, paling tidak ada 3 macam kesabaran yang diujikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya;

  1. Sabar dan taat kepada Allah.

    Ini dikarenakan nilai/kualitas pahala dari orang yang berpuasa langsung dinilai oleh Allah SWT.

  2. Sabar dalam berbuat maksiat.

    Orang berpuasa akan lebih mudah mengontrol nafsunya. Oleh karena itu, beribadahlah sebanyak-banyaknya pada saat bulan Ramadhan dikarenakan pahala yang besar dan dimudahkan dalam mengontrol diri.

  3. Sabar dalam menerima takdir Allah.

    Orang yang berpuasa lebih mudah mensyukuri terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.

 

Karena kesabaran yang luar biasa bagi orang yang berpuasa, maka tentunya ada hikmah yang dapat dipetik. Seperti…

  1. Menjaga diri kita dari syahwat maupun nafsu.

  2. Adanya persatuan ummat Islam dalam beribadah.

    Contoh: berpuasa dan bertarawih secara bersama-sama.

  3. Dapat melatih kesabaran

     

Banyak sekali amalan-amalan ibadah yang dapat kita lakasanakan selama bulan Ramadhan, contohnya adalah memperbanyak shalat sunnah (tahajjud, ba’diyah, qobliyah, dhuha), membaca al-qur’an, mengadakan halaqah, belajar, dll.

 

Selain itu, banyak sekali keutamaan-keutamaan yang bisa kita ambil di bulan ramadhan. Beberpa diantaranya adalah:

  1. Diampuninya dosa-dosa yang lalu.

  2. Balasa istimewa dari Allah dalam berpuasa.

  3. Dapat menjaga mulut.

  4. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari bunga kesturi.

  5. Pintu khusus surga (Arroyyan) bagi orang yang berpuasa.

  6. Orang yang berpuasa memiliki 2 kegembiraan, yaitu: Ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Allah (semakin dekat dengan sang Pencipta).

و السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته