Category Archives: sastra

[cerpen] Aisyahku… Bidadariku…

Aku baru ingat kalau siang ini aku ada janji dengan seorang wanita, seorang wanita manis berjilbab yang akhir-akhir ini wajahnya selalu menghiasi hatiku. Aisyah, begitu ia sering dipanggil, nama yang indah bukan? Sesuai dengan sifat dan rupanya. Aku mulai mengenalnya ketika kami sama-sama aktif berkecimpung dalam suatu keorganisasian SMA, pun begitu bila ada kegiatan majlis rohani siswa. Detik demi detik, hari demi hari… tak terasa waktu pun mengalir begitu cepatnya ku lalui, dan hatiku semakin bersemi oleh perasaan cinta. Entah mengapa perasaan ini tumbuh begitu saja dalam lubuk hatiku, perasaan yang sungguh menemtramkan hati dan hanya bisa terobati dengan memandang wajahnya yang bersinar manis. Mungkin benar kata orang kalau cinta pertama itu tak terlupakan, semakin dipendam akan semakin merindu.

Dag dig dug… hatiku berdegup semakin kencang, saat kulihat Aisyah telah menunggu di tempat parkir motor. Barusan ketika istirahat sekolah, aku meminta teman dekatnya untuk menyampaikan perasaanku. Tapi tanpa diduga, Aisyah memabalasnya dengan menyampaikan balik pada temannya itu kalau memang aku suka, aku harus bilang sendiri kepadanya. Dan setelah KBM berkahir, Aisyah menungguku di tempat parkir motor.

Ingin rasanya kuungkapkan semua perasaan tulusku pada Aisyah, tapi untuk sekedar melangkahpun begitu berat, apalagi untuk mengucapkan satu kalimat “I love you”. Ku beranikan diri untuk untuk mendekatinya dan berharap ia yang akan memulai pembicaraan. Tapi setelah beberapa saat, suasana masih hening tanpa ada satupun ucapan terlontar dari kami. Apa boleh buat, aku beranikan diri untuk memulai pembicaraan.

“Aisyah,… barusan temenku udah nyampein sesuatu belum tentang aku ke kamu?” tanyaku sedikit malu.

“hm… sampein tentang apa?” balas Aisyah

“tentang… tentang… kalo aku suka sama kamu” jawabku

“kamu suka sama aku?” tanya Aisyah

“iya”

“tapi.. maaf yah Rahmat, aku masih belum memikirkan tentang itu” balas Aisyah, sembari pergi meninggalkanku sendirian begitu saja di tempat parkir.

Mukaku agak merah bercampur malu dengan jawaban terkahir yang kudengar dari mulut Aisyah. Seolah-olah jawaban itu sebagai penolakan halus darinya, namun hatiku masih belum bisa berpaling darinya. Aku semakin penasaran dengan jawabannya, dia belum memberikan jawaban yang tegas ‘ya’ atau ‘tidak’.

Setelah kejadian itu, aku merasakan hubungan pertemanan diantara kami semakin menjauh. Seringkali tiap berpapasan ataupun bila ada pertemuan rapat organisasi, jarang sekali kita berkomunikasi, walaupun hanya sekedar untuk saling melempar salam. Singkat cerita, kami pun sibuk dengan urusan masing-masing hingga menjelang UAN dan UMPTN.

2.5 tahun kemudian…

Hmmpf… jadi mahasiswa memang banyak tantangannya, harus ngerjain projectlah, ngumpulin reportlah, belum lagi ada ujian smester yang harus kulalui demi sebuah credit. Tapi, inilah konsekuensinya sebagai mahasiswa, harus pintar membagi waktu. Apalagi lagi hidup di kota besar seperti Surabaya, banyak godaannya.

Di tengah-tengah kesibukanku sebagai mahasiswa, tiba-tiba ada seorang teman SMAku dulu bilang kalau Aisyah sekarang juga sedang kuliah di Surabaya. Mendengar berita itu, spontan semangatku bangkit lagi untuk mendapatkan jawaban ke dua dari Aisyah setelah 2.5 tahun lalu. Di mataku, Aisyah benar-benar beda, ia bagaikan representasi wanita-wanita muslimah lainnya. Sikapnya yang sopan, tutur katanya yang halus, penampilannya yang menutup aurat, ditambah dengan wajahnya yang manis membuatku semakin kagum padanya. Maklumlah, Aisyah memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang memiliki basis agama yang kuat.

Setelah kudapatkan nomor Hpnya Aisyah pemberian temanku tadi, langsung ku hubungi Aisyah menyangkut pertanyaanku 2.5 tahun lalu. Jawaban yang ku terima tidaklah jauh berbeda dengan jawaban 2.5 tahun lalu, “Maaf ya Rahnat, aku belum siap…” begitulah jawaban ke dua yang kuterima darinya. Jawaban yang singkat, dan masih membuatku penasaran untuk menunggu jawaban yang ke tiga. Kucoba merenung sejenak mengenai jawaban kedua Aisyah, apakah ia tidak siap bila aku menjadi pendamping hidupnya, ataukah karena masih kuliah?

Kalau boleh jujur, sebenarnya kesal juga sih udah nanya 2 kali tapi jawabannya masih ngambang, 2.5 tahun lagi. Yang pertama dijawab dengan alasan belum kepikiran, terus yang ke dua alasannya karena belum siap. Tapi untungnya aku masih bisa bersabar untuk medapatkan jawaban ke tiga. Sembari menunggu jawaban ke tiga, yang mungkin juga butuh waktu lama, aku mencoba berpikir tentang diriku ini. Aku akui memang, pemahamanku agamaku sebagai seorang muslim masih kurang, bahkan bisa dibilang aku in islamnya islam KTP alias masih awam betul dengan pengetahuan agama. Kucoba sinkronasikan renunganku itu dengan Aisyah, gadis yang kuincar sejak lama itu.

Apa mungkin tipe laki-laki yang dicari Aisyah adalah laki-laki yang memiliki basis agama yang luas? Ah… kenapa tidak terpikirkan olehku, Aisyah adalah sesosok wanita muslimah yang berilmukan agama sangat luas, kalau aku menjadi pendamping hidupnya nanti apakah aku mampu untuk menjadi seorang imam baginya. Orang baca tulis Qur’an aja masih belepotan. Berarti… aku musti jadi pak Kyai dong! Harus bisa ceramah, harus bisa ngisi kultum, kudu hapal Al-qur’an, rajin ndawud (puasa daud), pake peci putih, dll.

Uh…banyak banget yang harus ku ubah, dan berat sepertinya bila harus menanggalkan predikatku sebagai mahasiswa salah satu PTN favorit. Ataukah aku harus melupakan Aisyah untuk selama-lamanya? Ku terdiam sejenak, kepalaku masih penuh dengan berbagai macama pilihan hidup. Disela-sela kebimbanganku, aku jadi teringat dengan khutbah jum’at minggu lalu, yang isinya kalau tidak salah menjelaskan peranan muslim di semua aspek kehidupan. Salah satu point yang masih aku ingat adalah, islam dahulu bisa jaya karena mereka memperhatikan perkembangan ilmu di semua bidang, dari segi ekonomi, teknologi, kelautan, kedokteran, dan tentunya dalam hal dienul islam itu sendiri. Mereka bukan hanya ahli dalam hal menghitung saja, tapi juga ahli shalat, ahli shoum, ahli sunnah, tahfidz Qur’an dan hadits. Mereka selain menjalankan kehidupan duniawi sebagai pakar dibidangnya masing-masing juga tak lupa dengan kodratnya sebagai hamba Allah yang harus ingat dan terus berdzikir kepada Allah.

Akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki ilmu agamaku, aku ingin membenahi kehidupan spiritualku mulai dari nol lagi. Paling tidak, hal-hal kecil yang jarang aku perhatikan harus aku kerjakan semaksimal mungkin, seperti shalat tepat waktu, rajin ke masjid, tahajjud, dll. Sejak saat itu, aku mulai mencoba untuk lebih bersabar menunggu jawaban ke tiga dari Aisyah. Waktu pun berjalan cepat, tak terasa hingga saat ini hampir 5 tahun sudah aku menuggu jawaban tak pasti sejak SMA dulu.

Sore ini cuaca benar-benar memangangku, seakan-akan Surabaya bagaikan oven dengan suhu super panas. Meskipun jam hampir menunjukkan pukul 4 sore, tapi teriknya matahari Surabaya tak kunjung mereda, padahal badanku sudah penuh dengan peluh setelah pulang dari kuliah barusan.

Di tengah teriknya matahari Surabaya, aku iseng telepon ke Aisyah menyangkut pertanyaanku 5 tahun silam. Sebenarnya hatiku masih was-was gara-gara 2 jawaban pertama yang ia berikan, tapi rasa penasaranku semakin hari semakin bertambah, apalagi sekarang sudah semester 8, artinya sebentar lagi kualiahku mau selesai.

“Assalaamu’alaikum … Aisyah”

“Wa’alaikumussalaam… Rahmat ya, ada apa?”

“Um… Aisyah, aku sudah lama menunggu jawaban pastimu. Aku mau serius dengan kamu kalo aku suka sama kamu…”

Lama tak kudengar jawaban dari Aisyah.

“Halo Aisyah…”

“Mm…Rahmat, maaf ya.. aku sudah ada yang melamar. Ia seorang dokter pilihan kakakku”

Mendengar jawaban itu ingin rasanya kubanting handphone dalam genggamanku ini, tapi aku mencoba untuk tenang, tidak emosi. Bagaimanapun juga Aisyah bukanlah siapa-siapa aku, dan ia berhak untuk itu (memilih calon suami). Belum sempat aku ucapkan selamat padanya, telepon sudah terputus.

Akhirnya aku mengirimkan sms selamat kepadanya.

“Terimakasih Aisyah, aku turut senang… dan aku harap dialah seorang laki-laki yang engkau harapkan. Dan kelak menjadi yang terbaik menurut Allah, yang dipilihkanNya untukmu. Karena saya yakin benar apa yang difirmankan Allah yang intinya ‘wanita-wania yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula’.”

Aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambanya. Aku selalu berdo’a padaNya, jika memang ia jodohku maka dekatkanlah kami, namun bila Engkau berkehendak lain maka berikanlah yang terbaik untuk kami berdua dan tetapkanlah kami dalam tali persaudaraan. Dan mungkin, Allah memberikanku jalan yang kedua, wanita yang lebih shalihah dari Aisyah. Amiin…

Kubuka lembaran baru, hari baru, mencoba menerima keadaan, dan mengatur kembali rencana hidupku ke depan. Masih banyak tugas akhir yang belum aku rampungkan, acara SKI kampus bulan depan, dan yang penting, aku harus mencari “Aisyah“ baru. Hehehe… Cuma berharap kok, tapi untuk yang terakhir itu aku serahkan segalanya kepadaMu Ya Ar-rahman.

Di saat-saat ketika aku mulai melupakan Aisyah, tiba-tiba ada sms dari Aisyah. katanya…”mas Rahmat, aku pengen ngomong sama kamu”. Hmm… mungkin dia mau mengundangku di pernikahannya nanti, pikirku spontan. Yah… meskipun itu masa lalu, tapi nggak ada salahnya kan kalau kita tetap menyambung tali silaturahmi, salah satunya dengan hadir pada hari pernikahannya. Hmpf… Ya Allah, begitu beratnya ujian yang aku terima ini ya Allah. Baru beberapa menit setelah Aisyah mengirimku sms, ada telepon masuk, dan… lagi-lagi dari Aisyah. Tapi, aku sedikit mendengar suara isak tangis keluar dari mulutnya sambil berkata “Rahmat, aku siap jadi istri kamu…” JEDHUERRR… aku menghela napas panjang-panjang. Kaget, rasa tidak percaya, dan (mungkin) senang jadi satu dalam hatiku. Aku masih bisa mendengar alasan mengapa ia memutuskan untuk menikah denganku, meskipun Aisyah mengutarakannya dengan menangis. Aisyah merasa tidak cocok dengan calon suami pilihan kakaknya. Aku pun langsung sujud syukur, begitu mendapat nikmat terindah dalam hidupku ini. Ya Allah… Ya Rahman, tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata bagaimana senangnya aku saat ini. Kau anugrahkan bidadari untuk menemaniku hidup, setelah 5 tahun menunggu tanpa kepastian, setelah 5 tahun berdo’a penuh harap, akhirnya Engkau kabulkan juga do’aku ini.


F. A. Aris

Roelof van Schevenstraat 106,

24 July 2007, 00:39 am

*untuk seorang teman, yg belum pernah aku temui. Semoga pernikahan kalian selalu di Ridloi olehNya…